Rezeki yang Mendatangkan Azab, Kenali Tanda-Tanda Istidraj Menurut Al-Qur’an

WARTAMEDIA.ID – Allah SWT memberikan rezeki kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya. Rezeki tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari harta, kesehatan, keluarga, pekerjaan hingga berbagai kenikmatan dalam kehidupan.
Namun, dalam ajaran Islam, tidak semua kenikmatan yang diperoleh seseorang menjadi tanda bahwa Allah SWT sedang memberikan kebaikan kepadanya.
Ada kondisi ketika seseorang justru mendapatkan banyak kesenangan, harta melimpah dan kehidupan yang tampak nyaman, tetapi pada saat yang sama semakin jauh dari Allah SWT. Dalam pembahasan keislaman, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah istidraj.
Istidraj secara sederhana sering dipahami sebagai keadaan ketika seseorang terus mendapatkan kenikmatan atau kelapangan, sementara dirinya semakin lalai, banyak melakukan maksiat dan menjauh dari ketaatan kepada Allah SWT.
Al-Qur’an memberikan peringatan mengenai kondisi tersebut. Salah satunya terdapat dalam Surat Al-Qalam ayat 44.
فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Biarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Kelak akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS Al-Qalam: 44).
Ayat tersebut menjadi salah satu dasar yang kerap digunakan dalam pembahasan mengenai istidraj. Kenikmatan yang diterima seseorang tidak selalu menunjukkan bahwa dirinya berada dalam kondisi yang diridai Allah SWT.
Allah Membuka Pintu Kesenangan Sebelum Azab
Peringatan mengenai istidraj juga terdapat dalam Surat Al-An’am ayat 44. Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
“Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang sudah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS Al-An’am: 44).
Ayat tersebut menggambarkan keadaan suatu kaum yang melupakan peringatan Allah SWT. Mereka kemudian mendapatkan berbagai kesenangan hingga merasa gembira dengan apa yang diperoleh. Namun, setelah itu datang azab secara tiba-tiba.
Karena itu, banyaknya rezeki dan kesenangan hidup tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ciri Orang yang Mengalami Istidraj
Dalam buku Tasawuf Akhlaki: Ilmu Tasawuf yang Berkonsentrasi dalam Perbaikan Akhlak, Dr. H. Abd Rahman menjelaskan gambaran orang yang mendapatkan istidraj.
Orang yang mengalami kondisi tersebut dapat terus merasa bahagia meskipun berbagai peristiwa atau keadaan yang seharusnya menjadi bahan introspeksi terjadi dalam kehidupannya.
Ia bisa menganggap seluruh rezeki yang diperoleh sebagai sesuatu yang memang pantas didapatkan. Perasaan tersebut kemudian dapat membuat seseorang semakin jauh dari sikap rendah hati.
Dalam kondisi demikian, seseorang dapat merendahkan orang lain, bersikap sombong dan merasa dirinya aman dari ancaman azab Allah SWT.
Padahal, kenikmatan yang diterima seharusnya menjadi kesempatan untuk semakin bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rezeki Melimpah tetapi Ibadah Semakin Buruk
Sementara itu, dalam buku Hidup Bersama Al-Qur’an 1, M. Quraish Shihab membahas kemungkinan seseorang memperoleh berbagai kenikmatan meskipun kualitas ibadahnya justru semakin buruk.
Ketika seseorang semakin tidak ikhlas dalam beribadah, banyak melakukan maksiat kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia, tetapi kehidupannya tetap dipenuhi berbagai kesenangan, kondisi tersebut perlu menjadi bahan introspeksi.
Misalnya, seseorang terus mendapatkan harta yang banyak, kesehatan, kesenangan hidup dan berbagai kemudahan, sementara pada saat yang sama ia semakin jauh dari ketaatan.
Kondisi semacam itu dalam pembahasan mengenai istidraj dapat menjadi peringatan agar seseorang tidak langsung menganggap semua kenikmatan sebagai tanda bahwa dirinya telah berada di jalan yang benar.
Al-Qur’an Mengingatkan tentang Harta dan Anak
Allah SWT juga memberikan peringatan dalam Surat Al-Mu’minun ayat 55-56:
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ
Artinya:
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS Al-Mu’minun: 55-56).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa harta dan anak yang banyak tidak otomatis menjadi tanda seseorang mendapatkan kebaikan dalam pengertian yang sebenarnya.
Kenikmatan dunia seharusnya mendorong seseorang untuk semakin bersyukur, memperbaiki ibadah dan memperbanyak amal kebaikan.
Sebaliknya, apabila berbagai kemudahan justru membuat seseorang semakin sombong, lalai dan jauh dari Allah SWT, maka kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi diri.
Karena itu, ketika mendapatkan rezeki yang melimpah, seorang Muslim tidak hanya perlu menghitung jumlah harta yang dimiliki. Hal yang tidak kalah penting adalah melihat apakah rezeki tersebut membuat dirinya semakin dekat kepada Allah SWT atau justru semakin jauh dari-Nya.
Dengan memahami konsep istidraj, seseorang diharapkan tidak terlena oleh banyaknya harta dan kesenangan hidup. Rezeki yang diperoleh sebaiknya disyukuri dan digunakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan menjadi alasan untuk lalai dari ibadah dan melakukan kemaksiatan.







Tinggalkan Balasan