Tenyata Kebiasaan ini Bisa Menutup Pintu Rezeki, Berikut Penjelasan Ustadz Abdul Somad
WARTAMEDIA.ID – Mendapatkan rezeki yang banyak, luas, dan penuh keberkahan tentu menjadi harapan hampir setiap orang. Berbagai usaha dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup, mulai dari bekerja lebih keras hingga menjalankan berbagai amalan dan doa.
Namun, dalam perjalanan hidup, tidak semua orang merasakan kelancaran rezeki. Ada yang merasa penghasilannya semakin seret, kebutuhan terus bertambah, bahkan harus menghadapi persoalan utang yang datang silih berganti.
Kondisi tersebut kemudian membuat sebagian orang mencari tahu apa yang menyebabkan rezeki terasa sulit didapat.
Dalam sebuah ceramah yang dikutip dari kanal YouTube Ngaji Asyik, Ustadz Abdul Somad membahas mengenai rezeki dan sejumlah perilaku yang menurutnya dapat menjadi sebab tertutupnya pintu rezeki.
Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan rezeki bagi setiap hamba-Nya. Meski demikian, manusia tetap memiliki peran melalui pilihan dan perbuatannya dalam kehidupan.
“Allah tidak mengubah rezeki itu, lalu siapa yang mengubahnya? Kita yang mengubah,” jelas Ustadz Abdul Somad dalam ceramahnya.
Menurutnya, perbuatan maksiat yang dilakukan seseorang dapat menjadi salah satu sebab hilangnya keberkahan dalam kehidupan. Rezeki yang sebelumnya terasa mudah dan luas dapat berubah menjadi sempit ketika seseorang mulai melakukan berbagai perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Ia kemudian mengaitkan penjelasan tersebut dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran yang menjelaskan hubungan antara keimanan, ketakwaan, dan keberkahan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Latin:
Walau anna ahlal-quraa aamanu wattaqau lafatahna ‘alaihim barakaatim minas-samaa’i wal-ardhi wa laakim kadzdzabuu fa akhadznaahum bimaa kaanuu yaksibuun.
Artinya:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Ayat tersebut menjadi salah satu landasan yang disampaikan Ustadz Abdul Somad ketika menjelaskan mengenai keberkahan rezeki.
Menurut dia, keberkahan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya harta yang dimiliki. Sikap manusia terhadap Allah SWT dan terhadap sesama juga menjadi bagian penting dalam kehidupan.
Ia kemudian menyoroti perilaku manusia yang mengabaikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk anak yatim dan fakir miskin.
“Kenapa Allah cabut barokahnya?” tanya Ustadz Abdul Somad dalam ceramah tersebut.
Ia kemudian menjelaskan bahwa mengabaikan anak yatim, tidak peduli terhadap masjid, serta membiarkan orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan perilaku yang harus dihindari.
“Fadzaalikal ladzi yadhu’ul yatiim, membiarkan anak yatim, membiarkan masjid, membiarkan orang susah, maka inilah penyebab pintu-pintu rezeki ditutup oleh Allah SWT,” lanjutnya.
Pesan Ustadz Abdul Somad tersebut menekankan bahwa rezeki tidak semata-mata persoalan seberapa besar penghasilan seseorang. Keberkahan dalam harta juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan apa yang telah diberikan Allah SWT.

Jangan Hanya Memikirkan Diri Sendiri
Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad juga mengingatkan bahwa Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Namun, manusia juga harus memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Salah satu bentuknya adalah membantu saudara yang sedang membutuhkan.
Menurutnya, seseorang tidak seharusnya hanya sibuk memenuhi keinginan pribadi ketika masih banyak orang di sekitarnya yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Ia memberikan gambaran mengenai seseorang yang mampu membeli kendaraan mewah dan rumah besar, tetapi tidak peduli ketika anak yatim atau fakir miskin di sekitarnya tidak memiliki makanan.
“Engkau sanggup membeli kereta (kendaraan) yang mewah, sanggup membeli rumah yang besar, sementara anak yatim, fakir miskin tak makan, laa yukminu ahadukum!” tegasnya.
Ustadz Abdul Somad kemudian mengingatkan bahwa kecintaan kepada sesama Muslim menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang beriman.
“Tidak beriman kata Nabi, sampai kau sayang pada saudaramu seiman, min kulli nafsi, sama seperti sayang pada diri sendiri,” tutup Ustadz Abdul Somad.
Dari pesan tersebut, umat Islam diajak untuk tidak hanya mengejar kelimpahan materi, tetapi juga memperhatikan keberkahan dari rezeki yang diperoleh.
Bekerja keras tetap menjadi bagian dari ikhtiar. Namun, usaha tersebut juga perlu diiringi dengan menjaga diri dari maksiat, memperbanyak amal kebaikan, serta tidak melupakan orang-orang yang membutuhkan.
Membantu anak yatim, memperhatikan fakir miskin, peduli terhadap sesama, dan menggunakan harta di jalan yang baik dapat menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT.
Dengan demikian, ketika menginginkan rezeki yang luas dan berkah, seseorang tidak cukup hanya memikirkan bagaimana mendapatkan lebih banyak harta. Ia juga perlu melihat kembali bagaimana perilakunya terhadap Allah SWT dan sesama manusia.
Pesan yang disampaikan Ustadz Abdul Somad tersebut menjadi pengingat bahwa rezeki dan keberkahan tidak hanya berkaitan dengan apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani kehidupan dan memperlakukan orang lain.

Tinggalkan Balasan