Senin, 21 September 2026
MENU
Breaking News

Meja dan Kursi Tak Cukup, Siswa SDN 127 Rejang Lebong Belajar Lesehan

Reporter: Anak Abah | Editor: Anak Ibu

WARTAMEDIA.ID – Keterbatasan fasilitas belajar masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Salah satunya terjadi di SDN 127 Rejang Lebong, Desa Tebat Tenong Luar, Kecamatan Bermani Ulu Raya.
Kondisi keterbatasan meubeler membuat delapan siswa kelas VI di sekolah tersebut harus mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan duduk lesehan di lantai. Para siswa hanya beralaskan tikar selama mengikuti pelajaran di ruang kelas.
Meski belajar dengan fasilitas seadanya, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa untuk tetap mengikuti proses pembelajaran.
Kepala SDN 127 Rejang Lebong, Yenatul Aini, S.Pd., SD, mengatakan keterbatasan meja dan kursi mulai dirasakan sejak tahun ajaran baru 2026. Persoalan tersebut muncul setelah sekolah menerima tambahan peserta didik dari sekolah lain yang sudah tidak dapat menampung siswa karena kapasitas rombongan belajar (rombel) telah penuh.
“Memang untuk kelas VI saat ini ada delapan siswa yang terpaksa belajar lesehan karena meja dan kursi yang tersedia tidak mencukupi,” kata Yenatul.

Tambahan Siswa Bikin Meubeler Tak Mencukupi

Yenatul menjelaskan, sebelum adanya tambahan peserta didik, fasilitas meja dan kursi yang dimiliki SDN 127 Rejang Lebong masih dapat memenuhi kebutuhan siswa.
Namun, kondisi berubah pada tahun ajaran baru. Sejumlah siswa dari sekolah lain masuk ke SDN 127 Rejang Lebong setelah sekolah asal mereka tidak lagi memiliki kapasitas rombel.
“Kondisinya mulai terjadi pada tahun ajaran baru kemarin. Ada siswa yang masuk ke sekolah kami karena di sekolah sebelumnya rombelnya sudah penuh. Sementara fasilitas meja dan kursi yang kami miliki terbatas,” ujarnya.
Saat ini, jumlah keseluruhan peserta didik di SDN 127 Rejang Lebong mencapai 81 orang. Dengan jumlah siswa tersebut, sekolah juga menghadapi keterbatasan dalam pengelolaan anggaran operasional, termasuk dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Pihak sekolah telah berupaya mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan meubeler. Salah satunya dengan mengajukan bantuan melalui program revitalisasi sekolah.
Namun, hingga kini bantuan tersebut belum diterima sehingga sekolah masih mengoptimalkan fasilitas yang tersedia.
“Kami sudah mengajukan bantuan revitalisasi, tetapi sampai sekarang belum dapat. Kalau mengandalkan dana BOS, jumlah yang kami terima juga relatif kecil karena jumlah siswa kami hanya 81 orang,” jelas Yenatul.
Sekolah Berharap Perhatian Pemda
Yenatul berharap kekurangan meja dan kursi tersebut segera mendapat perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, meja dan kursi merupakan fasilitas dasar yang dibutuhkan siswa agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman.
Meski demikian, ia memastikan keterbatasan fasilitas tersebut tidak menghentikan kegiatan pembelajaran. Para guru tetap berupaya memberikan materi secara maksimal dengan menyesuaikan kondisi yang ada.
“Kami tetap berusaha memberikan pembelajaran secara maksimal meskipun kondisi fasilitas yang ada masih terbatas,” ujarnya.

KBM di SDN 127 Rejang Lebong Terpaksa Lesehan karena kekurangan meja dan kursi
KBM di SDN 127 Rejang Lebong Terpaksa Lesehan karena kekurangan meja dan kursi
40 Persen Sekolah SD-SMP Masih Kekurangan Meubeler

Persoalan kekurangan meja dan kursi ternyata tidak hanya terjadi di SDN 127 Rejang Lebong. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Rejang Lebong, Zakaria Efendi, M.Pd., membenarkan masih terdapat sejumlah sekolah yang menghadapi keterbatasan meubeler.
Menurut Zakaria, persoalan tersebut masih ditemukan pada sekitar 40 persen sekolah jenjang SD hingga SMP di Kabupaten Rejang Lebong.
“Memang masih ada sekolah kita yang meubelernya kurang, sekitar 40 persen untuk SD dan SMP. Salah satunya SDN 127 Rejang Lebong,” kata Zakaria.
Ia mengatakan, pemerintah daerah telah mengetahui kondisi tersebut dan tengah berupaya mencari solusi melalui penganggaran. Salah satunya dengan mengusulkan bantuan perbaikan dan pemenuhan fasilitas pendidikan melalui APBD Perubahan.
“Sudah kita ajukan dalam APBD Perubahan untuk bantuan perbaikan,” ujarnya.
Zakaria menambahkan, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang proses pembelajaran. Karena itu, sekolah yang masih mengalami kekurangan fasilitas akan menjadi perhatian pemerintah daerah dengan menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia.
Kondisi yang dialami SDN 127 Rejang Lebong menjadi gambaran bahwa pemenuhan fasilitas dasar pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, para siswa tetap menjalani proses pembelajaran dengan penuh semangat.
Untuk sementara, delapan siswa kelas VI harus belajar dengan duduk lesehan beralaskan tikar. Mereka tetap mengikuti pelajaran sembari menunggu adanya bantuan meja dan kursi agar kegiatan belajar di ruang kelas dapat berlangsung lebih nyaman dan layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Berita Terkini