Jejak Panjang L’Arc~en~Ciel: Dari Kedai Kopi di Osaka hingga Puncak Kejayaan Musik Jepang
WARTAMEDIA.ID – Dunia musik rock Jepang tak lepas dari nama besar L’Arc~en~Ciel. Di balik kepopulerannya yang melintasi generasi dan negara, terdapat kisah panjang yang dipenuhi inspirasi, pengorbanan, hingga kebangkitan dari masa-masa sulit.
Berawal dari Kedai Kopi dan Buku Filosofi
Kisah band ini bermula pada awal tahun 1991 di Osaka, Jepang, ketika dua anak muda—Tetsuya (bass/vokal) dan Hiro (gitar)—sepakat membentuk sebuah grup band. Tak lama kemudian, Tetsuya tertarik pada sosok Hyde, yang saat itu menjadi vokalis band Jerusalem’s Rod. Setelah mengajak Hyde dan rekannya, Pero (drum), formasi awal band ini pun resmi terbentuk.
Nama “L’Arc~en~Ciel” sendiri ditemukan Tetsuya secara tak sengaja. Saat sedang nongkrong di sebuah kissaten (kedai teh/kopi) bernama Raruku an Shieru di depan Stasiun Hankyu Umeda, Osaka, Tetsuya kemudian mencari makna kata tersebut di toko buku. Ia menemukan bahwa kata tersebut bermakna “lengkungan di langit” atau pelangi. Terinspirasi oleh filosofi warna-warni pelangi yang melambangkan perpaduan suara musik, Tetsuya memutuskan menggunakan penulisan huruf Latin dari kata tersebut, yaitu L’Arc~en~Ciel, agar memberikan dampak visual yang kuat bagi para pembaca.
Panggung pertama mereka digelar di Nanba Rockets pada 30 Mei 1991, di mana sang pemilik panggung saat itu sudah memprediksi bahwa L’Arc~en~Ciel akan menjadi band yang sangat terkenal.
Perombakan Personel dan Pengorbanan Demi Musik
Perjalanan L’Arc~en~Ciel tak selalu mulus. Pada Juni 1992, sang gitaris Hiro mendadak mengundurkan diri tepat sebelum rekaman demo. Tetsuya lantas membujuk teman masa kecilnya, Ken. Dalam waktu amat singkat—5 hari menghafal lagu dan 3 hari proses rekaman—Ken berhasil menyelesaikan proyek tersebut. Demi fokus di dunia musik bersama L’Arc~en~Ciel, Ken mengambil keputusan berani mengundurkan diri dari kuliah Arsitektur semester akhir di Nagoya. Keputusan itu memicu penolakan keras dari orang tuanya hingga ia diusir dari rumah.
Pergantian anggota kembali terjadi ketika drum dipegang oleh Sakura pada 16 Januari 1993 menggantikan Pero. Bersama Sakura, L’Arc~en~Ciel merilis album DUNE pada April 1993 yang menduduki puncak Oricon Indies Chart dan terjual 20.000 keping CD dalam kurun waktu tiga bulan. Kesuksesan ini membuka jalan bagi mereka untuk pindah ke Tokyo dan menembus industri musik nasional.
Terpaan Badai Krisis dan Kebangkitan “Niji”
Masa keemasan mereka sempat terancam hancur pada April 1997. Sakura terjerat kasus kepemilikan narkotika yang memaksanya mundur dari posisi drummer. Dampaknya sangat luar biasa: peluncuran single, jadwal tur, hingga penjualan merchandise di pasaran terpaksa dibatalkan total.
Di tengah keterpurukan, Tetsuya merangkul Yukihiro (eks Zi:Kill dan Die in Cries) yang dikenal lewat hobi bermain gim Evangelion. Yukihiro awalnya membantu sebagai additional player untuk proses rekaman single Niji (Pelangi) yang dirilis Oktober 1997. Lagu Niji—yang juga menjadi soundtrack film Rurouni Kenshin—melambangkan kebangkitan mereka bagaikan pelangi yang muncul setelah badai. Yukihiro kemudian resmi diangkat menjadi personel tetap pada 1 Januari 1998.

Puncak Keemasan di Tahun 1998
Kebangkitan L’Arc~en~Ciel dibuktikan lewat konser kebangkitan mereka, Reincarnation, di mana 56.000 tiket habis terjual hanya dalam rentang waktu 4 menit.
Tahun 1998 menjadi tahun paling gemilang dalam sejarah band ini. Deretan single dan album mereka mendominasi tangga lagu Oricon:
Winter Fall (Januari 1998): Single pertama mereka yang sukses menduduki posisi puncak Oricon Chart.
HEART (Februari 1998): Album kelima yang mencapai posisi puncak Oricon dan terjual hingga 1 juta kopi di minggu pertamanya.
Dive to Blue (Maret 1998) & video A Piece of Reincarnation (April 1998): Turut merajai tangga lagu papan atas.
Keberhasilan tersebut berlanjut hingga memasuki era milenium baru dengan perilisan double maxi single Neo Universe/finale, album ECTOMORPHED WORK, hingga album REAL pada tahun 2000, mengukuhkan L’Arc~en~Ciel sebagai salah satu legenda terbesar dalam industri musik Jepang.

Tinggalkan Balasan